Refleksia
Pendidikan

Menemukan Kembali [banyak] Cinta dalam Dunia Pendidikan?

Beberapa waktu lalu saya diundang oleh sebuah lembaga yang mencoba menghubungkan kebutuhan industri dengan dunia pendidikan. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah praktisi HRD industri dari berbagai bidang mencoba memberikan gambaran apa yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita. Sedihnya, mereka menggambarkan bahwa banyak lulusan dari pendidikan kita yang dianggap kurang atau bahkan tidak siap menghadapi dunia kerja. Namun, kabar gembiranya, semuanya berupaya memberikan solusi atas apa yang sedang terjadi.

Secercah harapan terpancar dari pertemuan tersebut, namun masih menyisakan pertanyaan kecil, apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia pendidikan kita? Adakah yang salah dengan sistem pendidikan kita? Apakah kurikulum pendidikan kita sudah dapat menjawab tantangan industri? Atau, mungkin, masalahnya justeru pada pertanyaan-pertanyaan tersebut yang mencoba menyederhanakan persoalan pendidikan hanya dalam konteks industri. Atau, pertanyaan yang mestinya diungkap, apakah pendidikan kita sudah dapat menjawab tentangan kemanusiaan yang lebih kompleks dan dikepung oleh derasnya laju teknologi dan informasi? Wallahu ‘Alam.

Pertanyaan-pertanyaan itu biarlah tetap menjadi pertanyaan yang mungkin akan dijawab oleh para ahli pendidian. Bagi saya yang sedang belajar mencintai dunia pendidikan, mungkin, pertanyaan yang tepat untuk saya adalah apa yang bisa saya berikan untuk ‘rumah kecil’ pendidikan tempat saya bekerja? Adakah yang tersisa dari diri saya yang bisa saya bagi di rumah kecil itu? Kemampuan apa yang mesti saya asah agar rumah kecil saya semakin cantik? Atau mungkin, pertanyaan itu juga terlalu besar dan tidak tepat untuk ditujukan kepada diri saya sendiri. Tapi, setidaknya, melalui pertanyaan-pertanyaan kecil ini saya dapat memunculkan kesadaran dan harapan baru mengenai keberadaan saya di dunia pendidikan; pertanyaan-pertanyaan yang mungkin harus terus dirawat oleh para pelaku pendidikan bahkan oleh semua orang, baik yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam dunia pendidikan. Hadanallah ajma’in.

Balik ke pertemuan. Dalam pertemuan tersebut diungkapkan beberapa hal penting yang dapat membantu peserta didik agar in-line dengan kebutuhan industri. Rata-rata memberikan kerangka pada pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pada sisi pengetahuan, banyak alumni lembaga pendidikan yang tidak memiliki pengetahuan memadai untuk terjun ke dunia kerja. Padahal, dari latar belakang profil pelamar, mereka datang dari lembaga pendidikan yang dianggap sudah membekali mereka untuk siap bekerja. Untuk persoalan ini, ternyata banyak perusahaan yang pada akhirnya berinisiatif memberikan banyak training agar mereka dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan; training-training yang sengaja diciptakan lengkap dengan kurikulum pembelajarannya serta pengajar profesional yang telah makan asam garam dunia industri.

Pada sisi sikap, para pelaku industri juga kadang dibuat tercengang dengan keadaan bahwa para alumni lembaga pendidikan sering kali menunjukkan sikap yang kurang memadai; kurang percaya diri, kurang dewasa, kurang dapat merespon pertanyaan dengan baik, yang jelas, kurang bisa menunjukkan bahwa mereka punya cukup niat untuk bekerja. Bahkan, hal-hal sederhana yang semestinya diperlihatkan seperti kerapian berpakaian, cara berkorenspondensi dan tata krama lainnya tidak dapat mereka tunjukkan dengan baik.  Sedangkan pada sisi keterampilan, hampir dapat dikatakan, bahwa keterampilan yang dimiliki jauh dari standar kebutuhan industri. Untuk persoalan yang terakhir, bahkan, dukungan pemerintah pun dirasa sangat kurang, karena berbagai lembaga-lembaga pelatihan kerja yang telah diciptakan hanya mampu menampung siswa yang sangat terbatas.

Terpintas dalam benak, lengkaplah sudah penderitaan! Tapi, mungkin, dalam sudut pandang industri, the show must go on. Apapun yang terjadi, industri harus tetap berjalan, apapun risiko yang harus diambil dan tidak ada kata menyerah. Tapi, sebenarnya, itu juga yang terjadi di dunia pendidikan. Kenyataan bahwa banyak lembaga pendidikan yang belum mampu menjawab kebutuhan industri, tidak juga menghentikan langkah; generasi penerus bangsa harus tetap mendapatkan pendidikan, apapun risiko yang barus diambil dan tidak ada kata menyerah.  Menarik bukan?

Jika demikian adanya, apa yang tersisa dari keduanya? Apa yang hilang dari keduanya? Dan, apa yang terlupakan dari keduanya? Industri membutuhkan tenaga kerja terampil untuk menjalankan roda bisnisnya, sedangkan pendidikan dianggap satu-satunya jawaban atas berbagai persoalan manusia dan kemanusiaan. Dua-duanya seperti dua sisi mata koin, tidak terpisahkan.  Namun, keduanya memiliki sudut pandang berbeda, walaupun terkadang mengambil posisi yang sama; sama-sama ingin menjawab kebutuhan manusia dan kemanusiaan.

Mungkin, yang tersisa adalah harapan; yang hilang adalah cinta; dan yang terlupakan adalah kurikulum. Untuk yang pertama dan yang kedua rasa-rasanya sangat sulit untuk menjelaskannya. Tapi untuk yang terakhir, mungkin, yang pertama dan yang kedua bisa diracik menjadi sajian lezat dan menyehatkan. Sejauh yang saya pahami, pembicaraan terkait kurikulum selalu berputar pada kurikulum resmi (formal curriculum) yang nyata-nyata dikembangkan dan dikontrol kekuasaan. Kurikulum yang satu ini sangat ketat, penuh standar dan dikepung indikator-indikator. Padahal, dalam diskusi tentang kurikulum, ada juga yang disebut dengan kurikulum terselubung (hidden curriculum).

Pada kurikulum terselubung inilah, sejauh yang saya pahami, harapan dan cinta bersemi dan diuji sedapat mungkin melalui pengetahuan yang didapat melalui kurikulum formal. Di dalamnya hasrat dan kecintaan terhadap pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan memiliki ruang bermainnya. Sehingga, kurikulum formal tidak berada di ruang kosong, sepi dan menyendiri. Dalam hal ini, saya sangat terinspirasi dengan guruku sewaktu belajar dulu, beliau menyatakan bahwa,  “melupakan pengetahuan yang telah dipelajari adalah sebuah pengkhianatan.” Pikiran saya yang serba pas-pasan ini, mencoba memahaminya dengan upaya terus menerus untk menciptakan ruang belajar sehingga pengetahuan, sikap dan keterampilan terasah dan meresap ke dalam diri dan dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada sisi ini, saya melihat, bahwa pengetahuan yang didapat melalui kurikulum formal bukan urusan diri dengan sekolah tapi urusan diri dengan kehidupan sehingga harus selalu dijaga. Bisa dikatakan, upaya menegasikan atau melupakan pengetahuan adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri yang telah meluangkan begitu banyak waktu dan biaya untuk belajar. Atas dasar itulah, saya merasa, bahwa sudah sepantasnya, lembaga pendidikan memberikan ruang yang memungkinkan setiap individu untuk selalu mengasah pengetahuan, sikap dan keterampilan secara terbuka, cair, bebas, memiliki arah yang jelas dan dengan durasi panjang selama masa belajar, bukan dengan kegiatan-kegiatan aksidental, sepintas sambil lalu. Dalam diskusi kurikulum, ruang itu ada dalam kurikulum terselubung; sesuatu yang sering terlupakan dalam praktik pendidikan kita.

Terkait hal tersebut, saya sering kali ditantang dengan kondisi para guru hari ini: apakah mereka sudah memiliki kapasitas yang mumpuni untuk melakukan itu? Jawaban saya singkat, saya tidak tahu. Tapi, jika para guru tidak menciptakan ruang untuk dirinya untuk selalu mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya, berarti mereka telah melupakan pengetahuan; sesuatu yang telah mengantarkan mereka sampai pada posisi yang sangat terhormat dalam masyarakat dan tentunya mendapatkan penghidupan melalui pengetahuan. Dalam hal ini, dapat saya katakan, bahwa membuka ruang belajar untuk diri sendiri merupakan pra-syarat utama agar kita dapat membuka ruang belajar bagi orang lain.

Namun, pertanyaan yang muncul kemudian dalam benak saya, kenapa kompas persoalannya selalu diarahkan kepada guru? Bagaimana dengan yang lain? Apa peran mereka? Padahal, dunia pendidikan tidak pernah melihat guru sebagai satu-satunya mata rantai keberhasilan siswa dalam belajar. Selalu ada hal lain yang tidak dapat dijawab oleh guru tetapi mesti dijawab bersama oleh orang-orang dari berbagai latar belakang profesi, posisi dan kepentingan. Menurut hemat saya, pada gilirannya, semua orang harus selalu mencoba menciptakan ruang belajar bagi diri dan orang lain sehingga yang dirasakan oleh para siswa adalah nuansa belajar yang terus menerus, tanpa batas dan tidak terpenjara ruang kelas atau sekolah. Intinya, belajar, belajar, belajar…!!!

***

Pertemuan lalu, menambah keyakinan saya bahwa sebenarnya masih banyak cinta dalam dunia pendidikan. Cinta yang selama ini terpendam dan menunggu untuk diungkapkan serta dibagikan. Saya berharap cinta itu juga tumbuh dan bersemi dalam diri kita masing-masing. Amin!

Related posts

Perencanaan, pentingkah?

admin

#1 Selamat datang di dunia pengetahuan!

admin

Situasi VUCA, apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan?

admin

Leave a Comment