Refleksia
Opini

3 hal penting memulai proses pembelajaran abad 21

“Mengajar di era sekarang ini jauh lebih mudah dibanding dulu!”

Itulah kira-kira yang dikatakan seorang sahabat yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kenyataan ini tentunya berbanding terbalik dengan pernyataan beberapa sahabat yang berprofesi sama sebagai guru atau dosen di tempat lain. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan tentang sulitnya mengajar di era sekarang mulai dari siswa atau mahasiswa yang sulit menangkap materi ajar, cenderung ‘nakal’ tidak disiplin, malas baca, malas mengerjakan tugas dan lain sebagainya.

Pengakuan bahwa proses mengejar itu mudah tentunya merupakan hal yang menarik. Saya penasaran untuk menggali lebih dalam apa yang dinyatakan oleh sahabat yang satu ini. Dalam  obrolan kami, ia menggambarkan kalau dulu kita perlu melakukkan usaha ekstra untuk mendapatkan informasi atau sumber ajar, sekarang semuanya tersedia dan bahkan sangat melimpah; informasi dan pengetahuan ada diujung jari.

Berikut beberapa hal penting dalam obrolan kami:

#1 pahami karakter belajar siswa/mahasiswa.

Memahami karakter belajar siswa/mahasiswa orang per orang itu sangatlah penting. Untuk yang satu ini, penting bagi pendidik mencoba menelisik lebih lanjut dan mencoba memahami karakter dan potensi yang dimiliki siswa/mahasiswa. Persoalannya, jarang sekali lembaga pendidikan yang memiliki data awal terkait potensi siswa/mahasiswa ketika awal memasuki jenjang pendidikan. Dan, jikapun ada, informasi awal tersebut jarang dialirkan kepada guru/dosen sehingga ada tugas tambahan bagi guru/dosen untuk memulai lagi indentifikasi karakter adan potensi siswa/mahasiswa. Mungkin, ini adalah PR bersama lembaga pendidikan untuk mencoba memberikan kemudahan kepada para guru/dosen agar memiliki peta awal karakter atau potensi siswa sehingga perumusan metodologi belajar akan jauh lebih tepat.

Namunpun demikian, pada dasarnya, identifikasi karakter dan potensi siswa/mahasiswa dapat dilakukan secara general melihat dari kecenderungan siswa/mahasiswa hari ini. Teori generasi Z atau Alfa, misalnya, pada dasarnya dapat dijadikan gambaran umum terkait bagaimana siswa/mahasiswa ‘jaman now’ belajar dan memahami tantangan apa yang terjadi pada generasi ini. Tipologi generasi ini, kata sahabatku, cukup membantu dalam merumuskan metodologi belajar di kelas kendati juga mensyaratkan guru/dosen untuk terus memahami karakter dan potensi siswa/mahasiswa orang per orang agar materi belajar jauh lebih dapat diterima dengan baik.

#2 buatlah disain metodologi pembelajaran yang menarik dan sesuai.

Setelah mencoba memahami karakter dan potensi belajar siswa/mahasiswa yang mesti dilakukan adalah membuat disain metodologi pembelajaran. Katanya, ini adalah tugas beratnya. Pada tahap ini, guru atau dosen harus merancang sebaik mungkin model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan karakter dan potensi belajar siswa/mahasiswa. Dalam hal ini, hal-hal yang sifatnya administratif seperti membuat prota, promes, silabus, RPP dsb. tidak dianggap lagi sebagai sesuatu yang administratif dan asal ada tanpa kepentingan.

Kata sahabatku, justru di sinilah inti kemudahannya walaupun dalam pengerjaannya ini yang tersulit. Pada tahap administrasi inilah, kreativitas dan inovasi adalah otoritas yang dimiliki oleh guru atau dosen. Asal tetap mengacu pada standar pendidikan nasional dan tentunya sistem nilai yang dianut oleh lembaga, maka guru atau dosen bebas berkreasi. Pada tahap inilah, racikan dan menu pengalaman belajar siswa/mahasiswa diolah dan disajikan. Gagal dalam mengolah dan menyajikan hal inilah yang membuat situasi belajar kurang kondusif dan sering kali tidak menyenangkan. Sisanya, pegang teguh dan fokus pada model pembelajaran yang dirancang sambil menghadirkan dorongan diri untuk selalu memperbaiki proses pembelajaran. Sebab, dalam proses pembelajaran itu sendiri, akan selalu ditemukan hal baru, baik persoalan, tantangan dan solusinya. Di sinilah, alasan utama mengapa guru/dosen harus selalu meningkatkan kapasitas diri.

#3 dorong kreativitas dan keterlibatan siswa atau mahasiswa.

Bagi pelaku dunia pendidikan, model pembelajaran seperti student centered learning, contextual learning dsb., bukanlah hal asing. Model-model pembelajaran ini pada dasarnya mengajak siswa atau mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Intinya, fokus pembelajaran beralih dari guru atau dosen ke siswa atau mahasiswa. Pada sisi inilah terkadang guru atau dosen kurang greget untuk memaksimalkan hal ini; model pembelajaran masa lalu masih dijadikan model terbaik. Padahal, model pembelajaran ini ditujukan untuk mengembangkan otonomi dan kemandirian siswa atau mahasiswa dalam proses pembelajaran. Tentunya, tidak saja dalam proses belajar di kelas, bahkan sampai pada proses evaluasi pembelajaran.

Dari sini, dapat dilihat, bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa mesti mengakui bahwa minat, potensi dan kemampuan siswa atau mahasiswa dapat dijadikan sentrum pengalaman belajar oleh guru atau dosen. Lain dari itu, tugas guru dan dosen dalam pembelajaran selain menjadi fasilitator belajar juga mengajarkan bagaimana siswa atau mahasiswa mempelajari materi ajar (how to learn), tidak fokus pada materi ajar (what to learn). Dalam konteks inilah, alasan mengapa setiap guru atau dosen mesti menyeriusi wilayah administratif pembelajaran seperti membuat prota, promes, silabus, RPP dsb. memiliki signifikansinya. Sebab, proses how to learn hanya dapat ditelusuri kehadirannya dalam wilayah administrasi tersebut, mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Intinya, tanpa keseriusan melakukan administrasi pembelajaran sangatlah sulit memahami bahwa proses pembelajaran sudah berpusat pada siswa atau mahasiswa.

* * *

Proses pembelajaran memiliki ruang pengembangan yang sangat luas, best practice sahabat saya mungkin bisa dijadikan salah satu model pengembangan pembelajaran terlepas dari sejumlah tantangan dan dinamika dalam proses pembelajaran itu sendiri. Mungkin sahabat-sahabat mau berbagi? Ditunggu…wallahu a’lam bi al-shawwab.

Related posts

Menyoal Kualitas Sekolah/Madrasah

admin

Birrulwalidain: penanggulangan kenakalan anak berbasis pesantren

admin

Tentang Kepemimpinan

admin

Leave a Comment