Dulu, tidak pernah terbayang oleh saya bahwa belajar mengarang pada pelajaran bahasa Indonesia itu ternyata sangatlah bermanfaat dalam merancang kegiatan-kegiatan di sekolah. Pelajaran mengarang setidaknya mendorong saya untuk menginsyafi bahwa dalam praktik kegiatan di sekolah mesti ada tema, topik dan juga judul. Tema biasanya berbicara tentang sesuatu yang sangat umum. Topik terkait dengan poin-poin yang dapat dibicarakan terkait dengan tema tertentu dan dengan bebas dapat dipilih sesuai dengan minat atau kebutuhan. Sedangkan judul biasanya lebih menjelaskan secara lebih khusus terkait dengan topik yang dipilih.
Bagi saya, Hal ini sangatlah menarik karena dari pengalaman belajar mengarang saya bisa lebih mengarahkan kegiatan-kegiatan yang diadakan sehingga menjadi lebih terarah dan dapat disesuaikan dengan kalender akademik. Bisa dibayangkan, untuk murid-murid setingkat SD/MI, mereka dapat mengalami setidaknya satu tema dalam satu tahun secara lebih mendalam. Dan, jika mereka belajar di SD/MI selama enam tahun maka mereka akan mendapatkan pengalaman belajar sebanyak eman tema.
Dengan model seperti ini, maka perencanaan pendidikan yang biasanya disusun di akhir tahun ajaran dapat memiliki fokus. Dengan demikian, segala hal yang dikembangkan dalam satu tahun ajaran akan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan akan tema tersebut. Dalam hal ini, tidak ada lagi alasan untuk bingung mencari ide atau tema dalam merancang dan melaksanakan kegiatan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kalender akademik. Semuanya tertuju pada satu titik pembelajaran sambil terus melihat keterhubungan antara tema yang telah disepakati dengan topik-topik tertentu.
Pengalaman saya untuk membuat satu tema tertentu dalam satu tahun di madrasah yang saya kelola, ternyata memberikan dampak positif kendati mesti harus dilakukan banyak perbaikan. Waktu itu, saya, guru dan staf bersepakat untuk mengambil tema “Go Green”. Tema ini, mendorong saya, guru dan staf untuk berdiskusi lebih banyak. Dari hasil diskusi, ditemukan bahwa “Go Green” memiliki relevansi dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di madrasah. Misalnya, dalam keseharian dapat memupuk dalam diri para murid rasa cinta terhadap alam dengan selalu menjaga kebersihan. Hasilnya, madrasah selalu tampak bersih. Guru dan staf selalu memasang mata untuk memastikan bahwa murid tidak membuang sampah sembarangan. Setelah timbul kesadaran tentang tidak membuang sampah sembarangan, murid diarahkan untuk mulai memilah sampah, organik dan non-organik.
Lain dari itu, murid juga diajarkan untuk selalu hemat dalam penggunaan air dan listrik. Misalnya, murid diminta untuk selalu mematikan ac, tv dan lampu ketika selesai menggunakan kelas. Atau, menutup keran dengan rapat jika telah berwudhu dan tidak menghambur-hamburkan air. Dan, mereka juga diajarkan untuk membuat sumur biopori yang salah satu kegunaannya untuk menampung cadangan air. Dan, banyak lagi kegiatan harian yang dapat dilakukan. Sedangkan dalam kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam pun ternyata tema tersebut tidak kalah menarik. Misalnya, ketika peringatan Idul Adha yang biasanya murid diajak untuk sama-sama terlibat dalam penyembelihan hewan kurban, “Go Green” ternyata masih tetap relevan atau dalam dalam kegiatan-kegiatan lainnya.
Praktik perecanaan kegiatan sekolah dengan tema tertentu di sekolah, tentunya, bukanlah hal yang baru bagi kebanyakan sekolah yang memang telah melakukan hal tersebut. Akan tetapi, masih banyak sekolah yang belum melakukan walaupun pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk melakukan hal tersebut. Namun demikian, berdasarkan pengalaman yang saya rasakan, membuat tema dalam kegiatan-kegiatan sekolah dapat memberikan keuntungan dalam pengelolaan kegiatan di sekolah. Keuntungan tersebut dapat dilihat secara internal maupun eksternal.
Secara internal, guru dan staf memiliki fokus dalam mengembangkan kegiatan baik harian, bulanan, semesteran dan tahunan. Artinya, di awal tahun menu kalender akademik akan diisi dengan berbagai kegiatan yang substansial. Lebih dari itu, guru dan staf akan lebih mudah mempersiapkan apa saja yang mesti dilakukan. Tentunya, dengan catatan, bahwa masing-masing individu sudah memahami bagaimana mempraktikkan tema tertentu dalam keseharian. Lain dari itu, dengan pemilihan tema, guru dan staf akan lebih mudah mengkomunikasikan pengalaman belajar yang akan didapat murid dalam satu tahun kepada orang tua/wali murid.
Sedangkan secara eksternal, sekolah dapat memproyeksikan pihak mana saja yang akan dijadikan rekanan yang dapat mendorong terciptanya pengalaman belajar bagi murid. Contoh kasus “Go Green”, beberapa pihak yang telibat misalnya dari kecamatan yang memberikan bantuan berupa bor untuk membuat sumur biopori. Atau, dari Dinas Pertemanan yang memberikan bantuan berupa tanaman yang akan ditanam para siswa. Atau, dari Dinas Kesehatan yang mengajarkan bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat. Dan, pihak lainnya, yang tidak dapat disebut satu per satu dalam tulisan ini.
Intinya, dengan adanya tema yang digarap secara fokus, maka akan memudahkan sekolah untuk mengembangkan modal pengetahuan yang dimiliki sekaligus meningkatkan modal sosial dengan membangun jaringan kerja dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta. Lain dari itu, dengan pemilihan tema kegiatan selama satu tahun, maka berbagai ruang kreativitas dapat terbuka. Kreativitas yang dimaksud adalah kemampuan untuk menghubungkan tema besar yang telah disepakati dengan berbagai topik pembahasan dan kegiatan yang beragam. Bisa jadi, bentuk kegiatan yang dilakukan sama seperti tahun sebelumnya, akan tetapi isi dan substansi dari setiap kegiatan tersebut berbeda. Dengan demikian, murid-murid mendapatkan pengalaman belajar yang lebih variatif dalam setiap tahunnya.
Ini pengalaman saya, bagaimana dengan pengalaman Anda?
Wallahu A’lam bi-l-shawwab.
