Refleksia
Pendidikan

Situasi VUCA, apa yang harus dilakukan lembaga pendidikan?

Pada catatan lalu (baca: Belajar sejarah, lagi!), melalui kaca mata sejarah Kerajaan Turki Usmani saya mencoba menggambarkan dua hal penting yang menjadi sentrum dalam proses pengelolaan sebuah lembaga; kepemimpinan dan pendidikan. Gambaran saya tentunya bukan gambaran ideal dalam menjelaskan sebuah dinamika sejarah kerajaan adidaya yang memiliki dinamika yang rumit, namun sebagai sebuah interpretasi, saya rasa hal tersebut dapat dijadikan pembelajaran bersama terkait bagaimana mengelola sumber daya manusia dalam sebuah lembaga apapun itu bentuk, level dan namanya.

Sebagai orang yang sedang belajar mencintai dunia pendidikan, pertanyaannya, bagaimana jika hal tersebut dikaitkan dengan lembaga pendidikan pada saat ini? Sebelum menjawab pertanyaan itu, rasa-rasanya penting bagi kita untuk mencoba memahami apa yang sedang terjadi pada saat ini atau situasi dan kondisi abad 21. Ada ahli menyebut situasi saat ini dengan VUCA—volatility, uncertainty, complexity, ambiguity. Yaitu sebuah situasi yang berubah secara cepat, penuh ketidakpastian, rumit dan ambigu. Salah satu pendorong situasi ini adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Situasi ini tidak saja terjadi pada masyarakat secara luas dengan berbagai dimensinya yang rumit tetapi juga sampai pada unit terkecil dalam masyarakat, keluarga. Kehadiran gadget misalnya, banyak orang tua yang menganggap hal ini berkah tetapi bukan karena fungsinya dalam mengakses limpahan informasi dan pengetahuan, tetapi lebih memudahkan membuat anak agar diam dan tidak ‘bandel’. Perilaku ini seakan-akan baik-baik saja tapi dalam sejumlah studi terkait hal tersebut, orang tua sesungguhnya sedang mengklik bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Situasi ini bisa jadi luput dari cara pandang orang tua masa kini yang kebanyakan lahir dari generasi yang berbeda dengan anak-anak ‘jaman now’. Oleh karena itu, lembaga pendidikan, semisal sekolah atau  madrasah, perlu memperkuat lini sumber daya manusianya agar dapat menghadapi situasi tersebut. Sebab, pada satu sisi, perkembangan TIK tidak dapat dibendung sehingga menjauhkan anak dari gadget juga  bukan hal yang bijaksana, tetapi di sisi lain perlu mengangkat kesadaran bersama bahwa tidak semua yang dihadirkan dalam teknologi tersebut berdampak positif.

Kembali ke persoalan lembaga pendidikan. Pertanyaannya, apa yang mesti dilakukan khususnya terkait aspek sumber daya manusia?  Pertama, lembaga pendidikan harus mulai melihat ulang kapasitas sumber daya manusianya dalam menghadapi situasi ini. Pertanyaan yang bisa diajukan dalam hal ini adalah, apakah sumber daya manusia yang dimiliki sudah sesuai dengan perkembangan ‘jaman now’? Dalam hal ini, lembaga pendidikan harus mulai mengkaji hal-hal yang menjadi kebutuhan pendidikan di ‘jaman now’; mulai mengenali karakteristik belajar anak ‘jaman now’; dan mengevaluasi kemampuan sumber daya manusia  yang dimiliki.

Jika sudah melakukan hal tersebut, langkah kedua adalah mengomunikasikan kajiannya kepada stakeholder sekolah, khsusunya dewasa termasuk orang tua. Langkah ketiga, membuat perencanaan pengembangan sumber daya manusia berdasarkan hasil kajiaan yang selanjutnya diimplementasikan dalam berbagai bentuk program dan kegiatan seperti pelatihan, coaching, konseling, motivasi dan lain sebagainya. Dan, yang terpenting dari itu semua, langkah keempat, adalah secara terus menerus melakukan monitoring dan evaluasi berkala agar hasil dari perencanaan dan implementasi diketahui dampaknya dalam proses keseharian di lembaga pendidikan yang dapat dijadikan acuan untuk upaya peningkatan kapasitas di masa yang akan datang. Lain dari itu, monitoring dan evaluasi juga menjadi sangat penting karena kaitannya dengan upaya merespon perubahan yang cepat  sebagaimana yang terjadi dalam situasi VUCA.

Ikhtiar untuk melakukan upaya peningkatan sumber daya manusia mungkin tidak semudah yang dikatakan, akan tetapi harus diupayakan sedapat mungkin karena hal ini akan berpengaruh pada keseluruhan proses pembelajaran di lembaga pendidikan dalam menciptakan generasi masa depan yang gemilang. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Related posts

Perubahan positif, dari mana dimulai?

admin

Dieksploitasi produsen, jangan mau!!!

admin

Guru: Profesi Multi Profesi

admin

Leave a Comment